CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Jumat, 09 September 2011

Ups, Salah Sangka!

Pusing, sedih, bingung, semua campur jadi satu. Itulah perasaanku sekarang. Gimana nggak pusing, sahabatku Gia, tiba-tiba menjauh dari aku tanpa beri alasan apapun kepadaku. Sedih, ya, karena dijauhi sama sahabat sendiri. Memang sih, masih banyak teman lain. Tapi, kalau menurut aku, Gia itu beda dari teman lainnya. Omongannya bisa dipegang, selain itu, dia juga selalu beri masukan kalau aku lagi ada masalah. Bingung juga, kenapa Gia bisa menjauh dari aku? Apa salah aku sama Gia? Ah, bingung banget, deh!
            Sikap Gia sangat aneh, tidak seperti biasanya. Contohnya saja kemarin, aku mengajak Gia main lompat tali di lapangan, tapi mamanya bilang kalau Gia masih tidur. Akhirnya, karena kurang pemain, aku dan Livia, tetangga yang juga teman sekelasku tidak jadi bermain di lapangan.
            Karena gagal main di lapangan, aku jadi duduk-duduk di teras belakang sambil iseng-iseng menggambar. Belum sempat menggambar, aku melihat Gia ada di halaman belakang rumahnya. Dia sedang lari-larian dengan  adiknya. Aku bisa melihat halaman belakang rumah Gia, karena rumah kami bersebelahan. Selain itu, tembok pembatas halaman rumahku dan rumah Gia juga tidak terlalu tinggi. Oh iya, aku masih bingung. Apa mungkin Gia baru bangun tidur? Kalau dilihat dari rambutnya yang sedikit basah, kelihatan sekali kalau Gia habis mandi. Aneh sekali.
            Bukan hanya itu, ada satu hal lagi yang berbeda dari Gia. Sekarang, ketika istirahat pertama, aku rasa Gia menjauhi aku. Biasanya, ketika istirahat, Gia selalu bersama denganku. Tapi, setelah lonceng berbunyi, Gia langsung berlari keluar kelas tanpa menunggu aku dulu. Sepertinya, dia sudah punya sahabat baru lagi.
 Tiba-tiba, Livia datang menghampiriku. “Mau istirahat bareng, Mita?”, tawar Livia disertai dengan senyuman.
“Nggak ah, Liv.”, jawabku.
 “Oke, daahh...”, kata Livia sembari pergi meninggalkan aku.
            Istirahat sendirian untuk yang pertama kalinya. Sepi banget, deh. Nggak ada yang bisa diajak ngobrol. Pokoknya aku menyesal sekali, karena sudah menolak tawaran Livia. Tapi, kalau aku istirahat bareng sama Livia, nanti aku dibilang tidak setia kawan. Ya sudahlah, semua sudah terjadi. Akhirnya, aku pergi sendiri ke kantin untuk makan.
            Aku kaget sekali ketika melihat Gia dan Livia istirahat bareng. Aku nggak menyangka, kalau sahabatku Gia, sudah punya sahabat baru. Sekarang aku sudah tahu, apa alasan Gia menjauh dari aku. Aku sangat kesal dengan Gia, karena dia sudah punya sahabat baru, dan melupakan aku. Oke, aku tidak akan merusak persahabatan mereka. Dan aku akan cari sahabat lain yang lebih baik dari Gia.
            Besoknya, di sekolah…
            “Hai Mita!”, sapa Gia kepadaku. Aku hanya tersenyum kecut kepadanya, karena aku masih kesal dengannya. Lalu aku berlari meninggalkan Gia, menuju ke kelas.
            “Kamu kenapa, Mit? Kayaknya, kamu marah sama aku?”, tanya Gia ketika sampai di kelas.
            “Iya. Memangnya kenapa?”, jawabku.
            “Hah? Kamu marah sama aku? Apa alasannya?”, teriak Gia saking herannya.
            “Karena kamu berbeda dari biasanya. Akhir-akhir ini kamu selalu menjauh dari aku. Contohnya, waktu sore itu, aku dan Livia mengajak kamu main, tapi kata mama kamu, kamu masih tidur. Ketika aku pulang ke rumah, aku melihat kamu sedang bermain di halaman belakang rumahmu dengan rambut agak basah, berarti kamu baru selesai mandi, bukan baru bangun tidur. Lalu kemarin, kamu langsung berlari meninggalkan aku ketika istirahat. Dan saat makan di kantin, aku lihat kamu sedang istirahat bareng sama Livia!”, jelasku panjang lebar.
            “Hahaha…”, Gia hanya tertawa mendengar perkataanku.
            “Kok kamu ketawa sih? Aku bicara serius Gi!”, seruku dengan perasaan yang super kesal.
“Nih, aku jelaskan ke kamu. Sore itu, mama aku nggak tahu kalau aku sudah dibangunkan adikku untuk bermain gelembung sabun, kamarku kan diatas. Harusnya, kamu teriak panggil nama aku. Kalau rambutku yang agak basah, itu karena keringatan. Kamu kayak ngggak tahu aku aja. Aku kan orangnya gampang keringatan.”, kata Gia.
            “Lalu, kalau yang kemarin itu?”, tanyaku semakin penasaran.
            “Oh, kalau itu, aku sudah kepingin buang air kecil, sudah nggak tahan. Karena takut ngantri, aku cepat-cepat ke WC. Setelah itu aku lapar dan pergi ke kantin. Di kantin aku bertemu dengan Livia. Livia yang menawari aku untuk duduk disampingnya. Nggak salah kan, kalau aku berteman dengan teman lain selain kamu? Kamu juga boleh berteman dengan teman lain, selain aku. Semua orang boleh berteman dengan siapa saja. Jadi, kamu harus belajar untuk berteman dengan teman yang lainnya. Nggak perlu malu-malu. Kalau kita bersikap baik, orang-orang juga akan bersikap baik sama kita.”, terang Gia.
            Wajahku memerah, aku begitu malu mendengar penjelasan Gia. Cepat-cepat aku meminta maaf ke Gia. “Gia, maafin aku, ya. Aku sudah salah sangka sama kamu. Kamu nggak marah sama aku kan?”.
            “Tenang aja Mita, aku nggak marah sama kamu, kok. Sudah lah, nggak usah merasa bersalah. Bagiku itu lucu, sama sekali tidak menyebalkan buatku.”, ucap Gia sambil tersenyum padaku.
            Kami berpelukan. Mulai saat ini aku berjanji pada diriku sendiri untuk belajar berteman dengan semua orang. Dan aku akan belajar untuk tidak gegabah lagi.

Good Bye Feli (Part7)


Setelah pulang dari acara pemakaman Feli, Keisha langsung mengurung diri di kamarnya. Dia menggenggam tiga buah gelang bertuliskan ‘Best Friend’ yang telah Keisha minta dari Caca dan mama Feli. Keisha menatap ketiga gelang itu sesaat, lalu dia teringat ketika mereka bermain, berangkat dan pulang sekolah bersama. Keisha menangis. Dia menutup wajahnya dengan bantal. Setelah tangisnya mulai reda, Keisha menelepon Caca agar datang ke rumahnya.
            Caca kini sudah sampai di rumah Keisha.
“Ada apa, Kei?”, tanya Caca.
“Nanti kamu tahu sendiri. Ayo ke halaman belakang rumahku.”, jawab Keisha. Mereka berjalan menuju ke halaman belakang rumah Keisha.
“Kamu lihat batu besar itu, kan ?”, tanya Keisha ketika sampai di halaman belakang.
“Ya, aku lihat batu besar itu.”, jawab Caca.
“Nah, sekarang kita gali lubang di dekat batu itu. Ayo cepat !”, kata Keisha sambil mengorek tanah di dekat batu besar itu. Caca ikut membantu.
”Lubangnya sudah jadi ! Sekarang kita kubur kotak berisi gelang persahabatan kita disini.”, kata Keisha setelah selesai menggali lubang. Caca kemudian memasukan kotak berwarna pink itu ke dalam lubang. Mereka kemudian mengubur kotak pink itu.
”Sekarang aku akan memahat tulisan ‘Best Friends’ di batu ini dan aku juga akan memahat tulisan nama kita bertiga.” Keisha kemudian memahat tulisan ‘Best Friends, Keisha, Feli, dan Caca’.
            “Sebenarnya untuk apa sih, kamu melakukan semua ini?”, tanya Caca kepada Keisha.
“Aku melakukan ini agar kita bisa terus mengingat Feli dan persahabatan kita. Karena sahabat tak akan terpisah oleh waktu.”, jelas Keisha.
“Aku setuju. Dan kita harus selalu mendoakan Feli.”, ujar Caca.
Because…We love you, Feli !”, ucap mereka berdua sambil mencium foto Feli.

Good Bye Feli (Part6)


              Hari-hari berjalan seperti biasanya. Feli sudah kelihatan ceria walaupun menurut dokter penyakit Feli bisa kambuh kapan saja.
            Suatu hari.. “Kei, Feli kok belum datang ? Biasanya dia datang lebih pagi dari kita.”, tanya Caca kepada Keisha.
 “Iya, aku juga bingung. Aku takut terjadi sesuatu sama Feli. Jangan sampai Feli ke..”, belum sempat Keisha meneruskan kata-katanya, Caca langsung menyela, “Hush ! Jangan bicara seperti itu !”.
“ Ups, sorry.”, sahut Keisha. Kemudian, “Teng.. teng..”, bel berbunyi, tanda masuk kelas.
“Aduh, Feli ! Datang, dong.”, Keisha bertambah cemas.
 “Sudahlah, Kei. Nanti pulang sekolah kita ke rumahnya. Oke ?”, hibur Caca.
“Oke !”, jawab Keisha sambil tersenyum.
~*~*~*~
            Kini mereka ada di depan pintu pagar rumah Feli. Tapi, kelihatannya di rumah Feli tidak ada orang. Keisha dan Caca kemudian bertanya ke tetangga Feli.
“Permisi bu, apakah Feli ada di rumahnya?”, tanya Caca kepada tetangga Feli.
“Tadi pagi keluarganya membawa Feli ke rumah sakit. “, jawab ibu tetangga.
“Rumah sakit? Di rumah sakit mana, bu?”, tanya Caca lagi.
“Di Health Life Hospital.”, jawab ibu itu singkat.
 “Terima kasih, bu !”, seru Keisha dan Caca bersamaan dan kemudian berlari menuju Health Life Hospital yang tidak jauh dari rumah Feli.
            “Aduh, capek banget.”, sahut Caca.
“Maaf dik, ada yang bisa saya bantu?”, sapa seorang perawat di rumah sakit.
“Felisha Lidya  ada di kamar berapa, ya?”, tanya Keisha.
“Sebentar ya, saya lihat dulu. Mm.. Nah, ketemu. Felisha ada di kamar Rose nomor 20.”, jawab perawat tersebut.
“Terimakasih.”, jawab Keisha dan Caca. Mereka segera mencari kamar tempat Feli dirawat di rumah sakit.
            “Tok.. tok..”, Keisha mengetuk pintu. Terdengar suara isak tangis dari dalam kamar Feli dirawat. Caca langsung membuka pintu, khawatir terjadi sesuatu dengan Feli.
 “Feli nggak kenapa-kenapa kan, om?”, tanya Keisha cemas.
 “Fe.. Feli sudah pp..pergi meninggalkan kita semua.”, jawab papa Feli dengan terbata-bata.
“Innalillahi wa innalillahi rojiuun..”, kata Keisha. Air mata menetes di pipinya.
“Feli !”, seru Caca sambil menangis. Keisha dan Caca tidak percaya akan semua ini. Feli, sahabat terbaik mereka, telah meninggalkan mereka untuk selama-lamanya. Mereka berdua merasa begitu kehilangan sosok seorang sahabat yang sangat mereka sayangi.
Keisha dan Caca tidak bisa membendung air matanya lagi. Pada saat Feli baru pergi meninggalkan mereka semua, dia masih mengenakan kerudung dan di pergelangan tangannya masih ada gelang bertuliskan ‘Best Friends’. Keisha dan Caca begitu terharu melihatnya.
“Semoga kamu ditempatkan di antara orang-orang beriman. Amin.”, doa Keisha di dalam hati.
“Keisha, Caca, nanti sore om harap kalian datang di acara pemakaman Feli.”, kata papa Feli.
“Insya Allah, om.”, jawab Keisha.
“Iya om.”, jawab Caca sambil menghapus air matanya.

Good Bye Feli (Part5)

            Hari ini Feli sudah masuk sekolah dengan penampilan baru, yaitu memakai kerudung. Feli kelihatan begitu cantik ketika memakai kerudung. Feli berharap Lisa tidak akan menuduhnya yang tidak-tidak.
Oh, harapan Feli tidak terwujud ! Ketika Feli baru masuk kelas, Lisa berkata “Wah, penampilan baru, nih ! Paling juga hanya untuk menutupi rambut botaknya saja. Hahaha…”. Feli hampir saja menangis, jika Keisha dan Caca tidak datang.
“Lisa ! Kalau tidak tahu, jangan menuduh Feli yang nggak benar !”, bela Keisha.
“Iya, lagipula Feli pakai kerudung karena benar-benar ingin pakai kerudung. Feli bilang ke aku dan Keisha bahwa dia akan memakai kerudung selama hidupnya.”, Caca ikut membela Feli.
 “Heh, Caca! Tahu apa kamu tentang kerudung? Kamu kan bukan orang Islam !”, tukas Lisa.
“Sudah ! Jangan bertengkar hanya karena aku ! Please Lisa, hargai Caca yang berbeda agama dengan kita!”, Feli yang dari tadi diam tiba-tiba berteriak dengan sangat keras sambil menangis.
            Semua kaget. Keisha dan Caca juga masih marah dengan Lisa yang berbicara seenaknya.
“Sudah puas kamu menyakiti hati Feli dan Caca? Dasar nggak tahu malu !”, Keisha berusaha memendam emosinya.
 “Sudahlah, aku nggak mau memperpanjang urusan. Dasar anak penyakitan yang bisanya menangis aja!”, kata Lisa seperti tidak merasa bersalah sedikitpun. Lisa pergi ke luar kelas sambil tersenyum tanda kemenangan.
            Sepeninggal Lisa, Keisha dan Caca masih menenangkan Feli.
“Sudahlah Feli, jangan nangis lagi. Aku tahu niat baikmu yang mau pakai kerudung.”, hibur Keisha.
“Dan Caca, jangan masukan ke hati kata-kata Lisa yang tadi, ya.”, ujar Karin.
“Nggak apa-apa, Kei. Tenang aja.”, jawab Caca sambil mengedipkan sebelah matanya.
“Maafin aku, ya. Aku selalu merepotkan kalian berdua. Mulai dari hari ulang tahunku, catatan pelajaran ketika aku nggak masuk, dan sekarang masalah ini.”, kata Feli yang merasa bersalah.
“Ya ampun Feli ! Kamu sama sekali nggak  merepotkan kita. Lagipula kita senang-senang aja, tuh melakukannya !”, seru Caca.
“Iya, kita melakukan itu semua karena kita sayang kamu, Fel. Kita hanya ingin kamu bahagia. Kalau kamu senang kita juga ikut senang ! Kita kan sahabat.”, kata Keisha sambil memperlihatkan gelang yang beruliskan ‘Best Friends’  ke Feli.
“Aku juga sayang kalian.”, balas Feli sambil menghapus air matanya. Ketiga sahabat itu saling berpelukan.         

Good Bye Feli (Part4)


Sudah 2 bulan Feli tidak masuk sekolah. Keisha selalu memikikan Feli. Tiba-tiba…
“Kriing…”, telepon rumah Keisha berdering. Keisha segera mengangkatnya.
“Halo, assalamu ‘alaikum.”, sapa Keisha di telepon.
“Wa ‘alaikumsalam. Maaf, aku ingin berbicara dengan Keisha. Apakah Keisha ada di rumah?”, jawab suara dari seberang. Keisha mengenal suara itu dan terdiam sejenak.
 Kemudian..
 “Feli!, Gimana kabarmu? Kamu sudah sembuh belum? “, seru Keisha. Dia sangat senang menerima telepon dari Feli.
“Oh, ini Keisha, ya? Kabarku baik-baik saja. Setelah beberapa kali menjalani kemo, dokter menyatakan bahwa aku sudah sembuh, tetapi belum sembuh total. Agar tidak mengganggu pelajaran, dokter menyuruhku untuk rawat jalan dan sesekali memeriksakan diri ke rumah sakit agar penyakitku tidak kambuh dan aku bisa sembuh total. Mulai lusa, aku akan sekolah!”, jelas Feli dengan bersemangat.
 “Wah, aku senang sekali! Aku doakan kamu agar sembuh total.”, sahut Keisha.
 “Makasih banget, Kei!. Oh iya, mau gak nanti sore ke rumahku? Kita nanti foto-foto di kamarku. Caca juga diajak, ya! “, tawar Feli.
 “Boleh juga. Oke deh.”, jawab Keisha.
“Ya udah. Aku tunggu, ya. Assalamu ‘alaikum..”.
“Wa ’alaikumsalam..”, jawab Keisha seraya menutup teleponnya. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu dan berfoto-foto dengan kedua sahabatnya.
Keisha kemudian menelepon Caca.
“Halo, selamat siang.”,sapa suara di seberang sana. Suaranya seperti Caca.
”Ini Caca, ya?”, Keisha bertanya kepada suara di seberang.
“Eh, Keisha. Ada apa? “, jawab Caca.
 “ Begini Ca, tadi Feli meneleponku…”, belum selesai Keisha bicara..
“Hah? Feli telepon kamu? Gimana kabar dia? Dia bilang apa ke kamu? “,Caca menyela pembicaraan Keisha.
”Ih, aku belum selesai cerita, dengar dulu, dong!”, Keisha agak kesal. Tapi sebenarnya dia nggak marah sama Caca.
Caca meminta maaf kepada Keisha.“Hehehe.. Maaf deh, ya udah terusin ceritanya.”,.
Karin melanjutkan ceritanya, “Yah, pake ketawa segala. Ya udah aku lanjutin ceritanya. Feli tadi meneleponku. Terus, dia cerita ke aku. Menurut dokter, Feli sudah sembuh, tapi belum sembuh total. Agar tidak mengganggu pelajaran, dokter manganjurkan agar Feli menjalani rawat jalan dan sesekali memeriksakan diri ke rumah sakit agar penyakitnya sembuh total. Jadi, mulai lusa dia sudah boleh pergi sekolah. Dan satu hal yang paling menyenangkan adalah..”, Keisha memutus ceritanya.
“Apa lanjutannya, Kei? “, tanya Caca yang makin penasaran.
“Feli mengajak kita berfoto-foto di rumahnya!”, seru Keisha saking gembiranya.
“Wah, asyik banget! Kapan kita kesana?”, tanya Caca.
“Nggak tau. Gimana kalo jam 4 sore?” , jawab Keisha
 “Okelah. Aku setuju.”, kata Caca seraya menutup teleponnya.
~ * ~ * ~ * ~
“Tok.. tok..”, pintu rumah Caca diketuk. Caca buru-buru membuka pintu.
“Keisha? Kamu kok kesini?.“, tanya Caca.
 “Aku mau jemput kamu, Ca.”, jawab Keisha.
“Oh, ya udah aku pamit ke mamaku dulu, ya.”, Caca langsung masuk ke dalam rumahnya. Baru beberapa menit saja, Caca sudah ada lagi di hadapan Keisha.
“Yuk berangkat !”, ajak Keisha.
 “Ayo!”, seru Caca. Mereka berlari menuju mobil Keisha.
“Jadi pada mau ke mana, nih?”, tanya papa Keisha.
 “Ke rumah Feli !”, jawab Keisha dan Caca dengan semangat.
“Oke, kita berangkat sekarang !”, seru papa Keisha. Kemudian papa Keisha mengemudikan mobil menuju rumah Feli.
~*~*~*~
“Hore, Sudah sampai!”, seru Keisha dan Caca.
“Papa mengantar sampai sini saja, ya. Nanti kalau mau pulang telepon papa. Ok ?”.
“Beres pa !”, jawab Keisha sambil mengacungkan jempolnya. Keisha dan Caca segera turun dari mobil dan memencet bel rumah Feli. Mama Feli yang membukakan pintu.
“Keisha, Caca, ayo masuk. Feli sangat ingin bertemu dengan kalian.”, sambut mama Feli.
“Iya tante.”, jawab Keisha dan Caca.
“Keisha! Caca! Aku kangen banget sama kalian!.”, seru Feli.
 “Aku juga. Feli, kamu cantik banget pakai kerudung!”, jawab Caca sekaligus memuji Feli.
“Makasih. Aku pakai kerudung bukan untuk menutupi rambutku yang botak karena efek samping obat. Tapi aku benar-benar ingin pakai kerudung, selagi aku masih hidup. “, jelas Feli sambil tersenyum.
“Aku setuju dengan perkataan Feli. Salut deh buat Feli !”, sahut Caca sambil mengangkat kedua jempolnya. Walaupun berbeda keyakinan, Caca mengerti maksud Feli.
Ada sebuah perasaan tidak nyaman di hati Keisha tentang perkataan Feli tadi. Akan tetapi, Keisha sangat setuju Feli memakai kerudung. Entah firasat apa itu, intinya ada yang mengganjal hati Keisha.
“Kei, kenapa bengong? Kamu setuju kan kalau Feli pakai kerudung?”, tanya Caca yang bingung dengan sikap Keisha.
“Eh, iya iya, aku setuju banget.”, jawab Keisha sambil nyengir.
“Oh iya Feli, ini aku bawa catatan pelajaran waktu kamu nggak masuk sekolah. Aku dan Keisha  yang mengetik ini semua.”, sahut Caca sambil menyerahkan catatan pelajaran yang telah dijilid dengan rapi.
“Ya ampun ! Kalian buat ini semua untuk aku? Makasih banyak, ya! Kalian memang sahabatku yang paling baik sedunia.”, seru Feli.
“Hehehe.. Feli bisa aja.”, kata Caca.
“Ngomong-ngomong, tadi ada yang janji ke aku mau foto bareng. Tapi siapa ya?”, canda Keisha.
“Oh iya, aku hampir lupa !”, sahut Feli. Feli kemudian berjalan ke luar kamar.
Sesaat kemudian, Feli datang bersama mamanya. Digenggamnya kamera kesayangannya. “Ayo kita berpose !”, ajak Feli. Ketiga sahabat itu langsung bergaya bersama di depan kamera yang dipegang mama Feli. Seperti biasa, ketika berfoto mereka mengatakan..”3.. 2.. 1.. Ciiss..”. Klik! Mama Feli memencet tombol kamera. Anak-anak berebut melihat foto.
 “Bagus.. bagus..”, komentar Feli.
“Ih, tapi aku disitu jelek banget!”, kata Keisha.
“Memang dari dulu kamu sudah jelek!”, sahut Caca.
“Aarghh… Cacaaa.. Aku cubit loh pipinya.”, kata Keisha seraya mencubit pipi Caca yang chubby.
“Aduh!”, seru Caca.
“Hahahaha…”, semua tertawa, Caca pun ikut tertawa.
Transparent White Star