CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Jumat, 09 September 2011

Good Bye Feli (Part6)


              Hari-hari berjalan seperti biasanya. Feli sudah kelihatan ceria walaupun menurut dokter penyakit Feli bisa kambuh kapan saja.
            Suatu hari.. “Kei, Feli kok belum datang ? Biasanya dia datang lebih pagi dari kita.”, tanya Caca kepada Keisha.
 “Iya, aku juga bingung. Aku takut terjadi sesuatu sama Feli. Jangan sampai Feli ke..”, belum sempat Keisha meneruskan kata-katanya, Caca langsung menyela, “Hush ! Jangan bicara seperti itu !”.
“ Ups, sorry.”, sahut Keisha. Kemudian, “Teng.. teng..”, bel berbunyi, tanda masuk kelas.
“Aduh, Feli ! Datang, dong.”, Keisha bertambah cemas.
 “Sudahlah, Kei. Nanti pulang sekolah kita ke rumahnya. Oke ?”, hibur Caca.
“Oke !”, jawab Keisha sambil tersenyum.
~*~*~*~
            Kini mereka ada di depan pintu pagar rumah Feli. Tapi, kelihatannya di rumah Feli tidak ada orang. Keisha dan Caca kemudian bertanya ke tetangga Feli.
“Permisi bu, apakah Feli ada di rumahnya?”, tanya Caca kepada tetangga Feli.
“Tadi pagi keluarganya membawa Feli ke rumah sakit. “, jawab ibu tetangga.
“Rumah sakit? Di rumah sakit mana, bu?”, tanya Caca lagi.
“Di Health Life Hospital.”, jawab ibu itu singkat.
 “Terima kasih, bu !”, seru Keisha dan Caca bersamaan dan kemudian berlari menuju Health Life Hospital yang tidak jauh dari rumah Feli.
            “Aduh, capek banget.”, sahut Caca.
“Maaf dik, ada yang bisa saya bantu?”, sapa seorang perawat di rumah sakit.
“Felisha Lidya  ada di kamar berapa, ya?”, tanya Keisha.
“Sebentar ya, saya lihat dulu. Mm.. Nah, ketemu. Felisha ada di kamar Rose nomor 20.”, jawab perawat tersebut.
“Terimakasih.”, jawab Keisha dan Caca. Mereka segera mencari kamar tempat Feli dirawat di rumah sakit.
            “Tok.. tok..”, Keisha mengetuk pintu. Terdengar suara isak tangis dari dalam kamar Feli dirawat. Caca langsung membuka pintu, khawatir terjadi sesuatu dengan Feli.
 “Feli nggak kenapa-kenapa kan, om?”, tanya Keisha cemas.
 “Fe.. Feli sudah pp..pergi meninggalkan kita semua.”, jawab papa Feli dengan terbata-bata.
“Innalillahi wa innalillahi rojiuun..”, kata Keisha. Air mata menetes di pipinya.
“Feli !”, seru Caca sambil menangis. Keisha dan Caca tidak percaya akan semua ini. Feli, sahabat terbaik mereka, telah meninggalkan mereka untuk selama-lamanya. Mereka berdua merasa begitu kehilangan sosok seorang sahabat yang sangat mereka sayangi.
Keisha dan Caca tidak bisa membendung air matanya lagi. Pada saat Feli baru pergi meninggalkan mereka semua, dia masih mengenakan kerudung dan di pergelangan tangannya masih ada gelang bertuliskan ‘Best Friends’. Keisha dan Caca begitu terharu melihatnya.
“Semoga kamu ditempatkan di antara orang-orang beriman. Amin.”, doa Keisha di dalam hati.
“Keisha, Caca, nanti sore om harap kalian datang di acara pemakaman Feli.”, kata papa Feli.
“Insya Allah, om.”, jawab Keisha.
“Iya om.”, jawab Caca sambil menghapus air matanya.

0 komentar:

Posting Komentar

Transparent White Star